CIAMIS, deJurnal,- Semangat inklusivitas mewarnai Pelatihan Dasar Taruna Siaga Bencana (Tagana) Muda 2026 yang digelar di Aula Dinas Sosial Kabupaten Ciamis, Jumat (24/4/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Tagana Ciamis membuka ruang seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas untuk terlibat aktif sebagai relawan kebencanaan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah keikutsertaan Resa Hermanto, penyandang disabilitas yang turut ambil bagian dalam pelatihan.

Tak hanya menjadi peserta, Resa bahkan dipercaya mewakili rekan-rekannya saat prosesi penyematan atribut Tagana, sebuah simbol penerimaan dan pengakuan setara dalam organisasi.
Kehadiran Resa menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkontribusi dalam misi kemanusiaan.
Wakil Ketua Umum Tagana Ciamis, Dimas, menegaskan bahwa Tagana merupakan wadah terbuka bagi siapa pun yang memiliki semangat pengabdian, tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik.
“Tagana adalah rumah bersama. Kami ingin memastikan bahwa semua orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berperan dalam penanggulangan bencana. Justru semangat mereka sering kali menjadi inspirasi bagi relawan lainnya,” ujarnya.
Menurut Dimas, pelibatan penyandang disabilitas juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan bencana yang inklusif dan berkeadilan.
Sementara itu, Resa Hermanto mengaku bangga bisa bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Tagana.
Ia menyebut kepercayaan yang diberikan menjadi motivasi besar untuk terus belajar dan berkontribusi.
“Saya sangat bersyukur bisa diterima di Tagana. Ini bukan hanya tentang ikut pelatihan, tapi tentang kesempatan untuk berbuat dan membantu sesama. Saya ingin membuktikan bahwa kami juga mampu,” kata Resa.
Ia berharap, keikutsertaannya dapat membuka jalan bagi penyandang disabilitas lain untuk tidak ragu mengambil peran dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Pelatihan dasar Tagana Muda 2026 ini sendiri menjadi momentum penting dalam mencetak relawan muda yang tidak hanya tangguh secara keterampilan, tetapi juga memiliki kepedulian dan semangat inklusi.
Tagana Ciamis menunjukkan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya soal kesiapan fisik, tetapi juga tentang kebersamaan, empati, dan kesempatan yang setara bagi semua. (Nay Sunarti)















