Ciamis, deJurnal,- Kabupaten Ciamis mulai serius mendorong pertanian ramah lingkungan berbasis teknologi modern. Salah satu langkah nyatanya terlihat dalam kegiatan penyemprotan pupuk organik menggunakan drone pertanian di kawasan persawahan Kelurahan Cigembor, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pertanian organik yang kini mulai tumbuh di sejumlah wilayah di Ciamis. Teknologi drone dimanfaatkan untuk mempercepat penyemprotan pupuk cair organik berbahan mikroorganisme lokal (MOL) yang diracik langsung oleh masyarakat dan kelompok tani setempat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi ikut turun langsung ke lokasi penyemprotan. Diketahui, Andang merupakan salah satu penggiat pertanian sistem ramah lingkungan yang selama ini aktif mendorong penggunaan pupuk organik dan pemanfaatan bahan alami di sektor pertanian.
Menurut Andang, lahan yang digunakan dalam praktik penyemprotan mencapai sekitar 1 hektare 8 bata tanah bengkok yang dikelola bersama masyarakat.
“Hari ini kita mencoba bagaimana teknologi drone bisa dimanfaatkan untuk pemupukan organik. Bahan yang digunakan berasal dari mikroorganisme lokal hasil racikan masyarakat sendiri, seperti bonggol pisang dan rebung. Harapannya dapat memperkuat batang dan akar tanaman,” ujarnya.

Ia menilai, gerakan pertanian ramah lingkungan di Ciamis terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga akhir tahun lalu, sekitar 70 hektare lahan pertanian di Kabupaten Ciamis telah menerapkan sistem pertanian organik, baik yang sudah bersertifikat maupun yang masih dalam tahap pengembangan.
“Alhamdulillah sekarang penggiat pertanian ramah lingkungan di Ciamis semakin banyak. Mudah-mudahan ke depan petani makin mandiri dan bisa memanfaatkan sumber daya lokal untuk membuat pupuk maupun kompos sendiri,” katanya.
Andang juga menyebut Pemerintah Kabupaten Ciamis telah mendeklarasikan arah pembangunan menuju kabupaten organik dengan memanfaatkan potensi hijauan serta limbah peternakan yang tersedia di berbagai daerah.
Selain mendukung pertanian sehat, penggunaan drone dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja petani. Penyemprotan lahan yang biasanya memerlukan waktu cukup lama secara manual kini dapat dilakukan jauh lebih cepat.
“Ini masih tahap uji coba, termasuk pengaturan pola pemanfaatannya. Nanti akan dikaji bagaimana sistem penggunaan, efektivitas, hingga regulasinya supaya benar-benar membantu petani,” tambahnya.

Sementara itu, Lurah Cigembor, Nandra Orlando menjelaskan seluruh pupuk yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan hasil produksi mandiri kelompok tani organik di wilayahnya.
“Karena konsepnya pertanian organik, pupuknya dibuat sendiri. Untuk penyemprotan kali ini menggunakan campuran mikroorganisme lokal dari rebung, nasi, dan bahan organik lainnya,” jelas Nandra.
Ia mengatakan proses pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga minggu sebelum siap digunakan di lahan pertanian.
Drone yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan bantuan pinjaman dari Dinas Pertanian sebagai upaya mengenalkan teknologi modern kepada para petani di Cigembor.
“Tujuannya mengenalkan teknologi pertanian modern kepada petani. Dengan drone, penyemprotan jadi lebih cepat dan efisien. Untuk lahan lebih dari satu hektare ini bahkan tidak sampai satu jam,” ungkapnya.
Meski penerapan pertanian organik membutuhkan proses dan tenaga lebih karena seluruh kebutuhan pupuk hingga pengolahan lahan dilakukan secara mandiri, pihaknya optimistis pola pertanian sehat akan memberi dampak positif bagi petani dalam jangka panjang.
“Harapannya masyarakat bisa mulai beralih ke pertanian organik dan menyadari bahwa pupuk tidak harus selalu membeli, tetapi bisa dibuat sendiri dari bahan yang ada di sekitar,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















