Ciamis, deJurnal,- Ditengah kepastian yang disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman terkait hadiah Lomba Sri Baduga, suara berbeda datang dari pemerintah desa.
Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis Ahmad Himawan mengaku tetap berharap hadiah tersebut cair, namun pengalaman menghadapi sejumlah janji yang belum terealisasi membuat desa-desa di Ciamis memilih menahan ekspektasi agar tidak kembali kecewa.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad Himawan, yang akrab disapa Mas Ahim, menanggapi penjelasan Sekda Jawa Barat saat Sidang Paripurna Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 di DPRD Ciamis, Sabtu (13/6/2026).
Sebelumnya, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman memastikan hadiah Lomba Sri Baduga yang hingga kini belum diterima para pemenang tetap akan direalisasikan melalui mekanisme anggaran tahun 2026.
Namun bagi kalangan pemerintah desa, kepastian tersebut masih perlu dibuktikan dengan realisasi di lapangan.
“Atas jawaban Pak Sekda terkait hadiah Sri Baduga yang belum juga ada titik terang, kami tentu menghargai dan mengapresiasi komitmen tersebut. Tetapi setelah beberapa janji sebelumnya tidak terealisasi, hari ini pemerintah desa dan perangkat desa sudah tidak terlalu berharap berlebihan,” ujar Ahim.
Menurutnya, pemerintah desa memahami kondisi keuangan pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi yang saat ini sedang menghadapi berbagai kebijakan efisiensi anggaran. Karena itu, pihaknya berusaha melihat persoalan tersebut secara objektif.
Selain faktor efisiensi, kata Ahim, Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini juga memiliki prioritas pembangunan yang berbeda, terutama untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di berbagai wilayah.
“Kami paham betul kondisi yang sedang dihadapi pemerintah. Kami juga memahami Pemprov Jawa Barat saat ini sedang fokus pada pembangunan infrastruktur provinsi, khususnya jalan-jalan provinsi yang memang membutuhkan anggaran besar,” katanya.
Meski demikian, Ahim mengungkapkan bahwa keraguan yang muncul di kalangan pemerintah desa bukan tanpa alasan.
Ia menilai terdapat sejumlah program yang sebelumnya sempat menjadi harapan masyarakat Ciamis, namun hingga kini belum terealisasi.
Ia mencontohkan rencana pembangunan Jembatan Cirahong 2, pengembangan kawasan wisata Kampung Susuru, hingga revitalisasi Situs Karangkamulyan yang sebelumnya sempat digaungkan namun belum menunjukkan realisasi yang jelas.
“Kemarin ada rencana pembangunan Jembatan Cirahong 2, Kampung Susuru, dan revitalisasi Situs Karangkamulyan. Sampai hari ini masyarakat masih menunggu realisasinya,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ahim juga menyoroti berkurangnya sejumlah bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang selama ini menjadi penopang pembangunan di daerah.
Menurutnya, dana transfer ke kabupaten yang sebelumnya mencapai ratusan miliar rupiah mengalami penurunan. Demikian pula bantuan keuangan provinsi untuk desa yang nilainya jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dana transfer ke kabupaten yang biasanya mencapai sekitar Rp200 miliar lebih juga tidak sesuai harapan. Bantuan keuangan provinsi untuk desa yang sebelumnya sekitar Rp130 juta kini hanya tersisa sekitar Rp40 juta. Ini fakta yang dirasakan langsung oleh desa,” katanya.
Karena itu, Ahim mengajak pemerintah desa untuk tetap bersikap rasional sambil menunggu kepastian realisasi hadiah Sri Baduga.
“Saya kira daripada kembali kecewa, lebih baik jangan terlalu berharap tinggi. Kita tunggu saja realisasinya. Kalau memang nanti cair tentu alhamdulillah dan kami sangat mengapresiasi,” ucapnya.
Meski bernada hati-hati, Ahim menegaskan pihaknya tetap berharap penghargaan bagi desa dan kelurahan berprestasi dapat direalisasikan sesuai komitmen yang telah disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Ia menyebut ada sejumlah penerima penghargaan yang hingga kini masih menunggu kepastian, di antaranya Kelurahan Sindangrasa yang berhasil meraih prestasi di tingkat Provinsi Jawa Barat, Desa Panjalu sebagai juara tingkat kabupaten, serta 27 desa lainnya yang menjadi juara di tingkat kecamatan.
“Kami sangat berharap hadiah Sri Baduga untuk Kelurahan Sindangrasa, Desa Panjalu, dan desa-desa juara lainnya bisa benar-benar dicairkan. Karena penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun wilayahnya masing-masing,” kata Ahim.
Meski demikian, ia mengaku pemerintah desa juga telah belajar dari pengalaman. Karena itu, mereka memilih menunggu realisasi dibanding terlalu larut dalam janji.
“Tapi kami juga paham, kalau pun akhirnya belum bisa terealisasi, ini bukan kali pertama kami menghadapi situasi seperti ini. Karena itu sekarang kami memilih bersikap realistis sambil tetap berharap yang terbaik,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















