• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Selasa, Mei 12, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in deNews

Ibu Hamil Masih Hidup Disebut Telah Meninggal, Praktisi Hukum Garut Ungkap Konsekwensi Bagi Oknum Pelaku

bydejurnalcom
Selasa, 12 Mei 2026
Reading Time: 3 mins read
Ibu Hamil Masih Hidup Disebut Telah Meninggal, Praktisi Hukum Garut Ungkap Konsekwensi Bagi Oknum Pelaku
ShareTweetSend

Dejurnal.com, Garut – Praktisi Hukum yang juga advokat, Agus Eka Kurnia, SH., MH., CPCLE., CCD. CLOP. menilai sanksi Hukum telah menanti bagi para pihak yang sengaja dan menyatakan orang hidup dianggap telah meninggal dunia, hal tersebut terutama membuat surat kematian palsu dan ini bisa masuk kedalam tindak pidana serius di Indonesia, dimana para pihak tersebut bisa dijerat dengan sanksi hukum pidana penjara.

Hal itu disampikan Agusk Eka Kurnia berkaitan dengan peristiwa kematian yang “dipalsukan” oleh oknum dan menimpa ibu hamil asal Banjarwangi, Garut.

“Ya, kita perlu bersikap penuh kehati-hatian, apalagi dalam mengurus dokumen penting, jangan sampai akhirnya malah berujung jadi fatal, pada tindak pidana, diakibatkan ketidak tahuan atau salah satu pihak dengan unsur kesengajaan membuat keterangan palsu”. Jelas Agus Eka Kurnia, saat ditemui dejurnal.com di salah satu Rumah Makan disudut Bunderan Simpang Lima Garut.

BacaJuga :

Kakan ATR /BPN Kabupaten Bandung Iim Rohiman Komitmen Permudah Administrasi Pertanahan Masyarakat

Disbudpora Ciamis Uji Gagasan Pemuda Pelopor 2026, Originalitas Jadi Sorotan

Dinas Ketahanan Pangan Garut Dorong Pola Makan Bergizi Lewat Program OPAL dan B2SA

Menurutnya, kalau yang menerbitkan itu ada keterlibatan Oknum Pejabat atau ada keterlibatan Pegawai Disdukcapil itu bisa kena UU Nomor 24 Tahun 2013, Tentang Administrasi Kependudukan Pasal 94 ” Setiap orang yang memerintahkan dan/atau memfasilitasi dan/atau melakukan manipulasi Data Kependudukan dan/atau Elemen Data Penduduk, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.75 Juta dan kalau ada unsur suap, ditambah UU Tipikor Pasal 5 dan 12, Penjara 1-5 Tahun dan denda Rp.50 – 250 Juta.

“Salah satu contoh yaitu penerbitan Akta Kematian Palsu, itu tindak Pidana, dan itu bisa dikenakan beberapa Pasal sekaligus, tergantung siapa yang bikin dan dipakai buat apa “. tegasmya.

Ketika disinggung mensoal dugaan kasus yang terjadi, menimpa pada Lia Rizki Amelia salah satu Ibu hamil 8 bulan lebih asal warga Desa Kadongdong Kecamatan Bajarwangi, Kabupaten Garut yang dinyatakan Meninggal hal tersebut diketahui hendak akan aktivasi BPJS, untuk persiapan lahiran sehingga data Kependudukannya tertolak sistem.

Agus Eka Kurnia justru merasa heran, orangnya masih hidup dan saat ini sedang hamil, jika itu yang dilakukan oleh Para Pihak tertentu, menyatakan orang yang masih hidup dianggap telah meninggal dunia dan terutama dengan tujuan membuat surat kematian palsu, ini merupakan tindak pidana serius di wilayah hukum Indonesia, dan pihak yang terlibat dapat dijerat dengan sanksi hukum pidana penjara, baik melalui Kitab UU Hukum Pidana (KUHP), maupun Undang – Undang Administrasi Kependudukan.

“Padahal untuk kasus ibu Lia Rizki Amelia, sebelumnya itu mengajukan permohonan Gugatan Cerai secara resmi dan hadir di Pengadilannya. Setelah sekian lama kembali menikah dan saat ini sedang hamil 8 bulan lebih, dan hal tersebut baru ketahuan ketika melakukan aktivasi ke BPJS dan tertolak sistem karena datanya dinyatakan Meninggal Dunia, maka ini perlu adanya pencabutan Akta Kematian dan ini melalui Pengadilan Negari, berkaitan hal sidang gelar perkara itu bisa dilakukan di Pengadilan Negeri dan juga bisa dilakukan diluar sidang ( sidang ditempat ) hal tersebut tergantung kebijakan Majelis Hakim, namun itu semua tidak bisa melepaskan dari unsur tindak pidananya”. Tandasnya.

Agus Eka Kurnia, menjelaskan sanksi hukum bagi pihak yang memalsukan data kematian seseorang padahal seseorang masih hidup, itu bisa dikenakan
1. Sanksi Pemalsuan Surat/Dokumen, Pasal 263 KUHP (1) Pihak yang memalsukan Surat Kematian, membuat surat kematian palsu dan / atau menggunakan surat tersebut seolah-olah asli diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun.
2. Memasukan Keterangan Palsu ke Akta Otentik Pasal 266 KUHP (1). Jika pelaku menyuruh memasukan keterangan palsu (menyatakan orang mati padahal hidup) ke dalam suatu akta otentik misalnya akta kematian yang dikeluarkan Disdukcapil, pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.
3. Sanksi Administrasi Kependudukan UU Adminduk, berdasarkan Undang Undang Nomor 24 Taun 2013 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2026 tentang Administrasi Kependudukan :
*. Pemalsuan Dokumen Kependudukan ; Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat dan/atau dokumen kependudukan dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun, dan/atau denda paling banyak 50.000.000.00,-
*. Manipulasi Data : Setiap orang yang memfasilitasi atau melakukan manipulasi data kependudukan, termasuk status kematian dipidana penjara paling lama 6 tahun, dan/atau denda paling banyak Rp. 75.000.000.00,-
4. Sanksi Tindak Pidana, terkait lainnya KUHP Baru (UU Nomor 1 Tahun 2023) dalam KUHP Baru yang berlaku tahun 2026, bahwa pemalasuan identitas atau data yang mengakibatkan orang lain dirugikan dapat dijerat dengan sanksi pidana yang lebih berat tergantung kerugian yang ditimbulkan.

“Proses Penetapan Kematian, seseorang yang hilang harus melalui putusan pengadilan, setelah jangka waktu tertentu dan biasanya 5 – 7 tahun atau lebih dan tidak boleh dilakukan sepihak, tindakan ini seringkali disertai dengan niat jahat untuk menguasai harta warisan yang juga dapat berkonsekuensi hukum perdata (pembatalan waris) dan pidana yaitu penipuan/penggelapan,” katanya.

Agus menekankan, selaku praktisi hukum dirinya menyadari bahwa diluar sana begitu banyak yang lebih paham tentang hukum, dan atas hal tersebut tidak ada salahnya mengajak kepada semua pihak untuk bersikap penuh kehati – hatian, apa yang telah menimpa Lia Rizki Amelia, Ibu hamil 8 bulan lebih ini, sungguh sangat miris dan memperihatinkan.

“Ini merupakan salah satu contoh kasus, diluar sana masih banyak terjadi. Pemerintah Daerah tidak boleh tutup mata dan diam diri, cukup hanya menerima laporan, akan tetapi harus turun kelapangan dan menyelesaikan permasalahan yang ada, indikator capaian kepuasan atas pelayanan publik, sebagaimana MCP-KPK RI, di dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang Clear and Clean and The Good Goverment,” Pungkasnya.***Yohaness

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Kakan ATR /BPN Kabupaten Bandung Iim Rohiman Komitmen Permudah Administrasi Pertanahan Masyarakat

Next Post

Yayasan Situs Mahmud, Jaga Marwah Cagar Budaya

Related Posts

Kelurahan Sindangrasa Jadi Rujukan, 10 Lurah dari Tasikmalaya Studi Tiru Program Inovasi
deNews

Kelurahan Sindangrasa Jadi Rujukan, 10 Lurah dari Tasikmalaya Studi Tiru Program Inovasi

Selasa, 12 Mei 2026
Di Usia 85 Tahun, Pidin Akhirnya Dapat Bantuan Perbaikan Rumah dari Pemkab Ciamis
deNews

Di Usia 85 Tahun, Pidin Akhirnya Dapat Bantuan Perbaikan Rumah dari Pemkab Ciamis

Selasa, 12 Mei 2026
Yayasan Situs  Mahmud, Jaga Marwah Cagar Budaya
deNews

Yayasan Situs Mahmud, Jaga Marwah Cagar Budaya

Selasa, 12 Mei 2026
Kakan ATR /BPN Kabupaten  Bandung  Iim Rohiman Komitmen Permudah  Administrasi Pertanahan Masyarakat
deNews

Kakan ATR /BPN Kabupaten Bandung Iim Rohiman Komitmen Permudah Administrasi Pertanahan Masyarakat

Selasa, 12 Mei 2026
Disbudpora Ciamis Uji Gagasan Pemuda Pelopor 2026, Originalitas Jadi Sorotan
deNews

Disbudpora Ciamis Uji Gagasan Pemuda Pelopor 2026, Originalitas Jadi Sorotan

Selasa, 12 Mei 2026
Dinas Ketahanan Pangan Garut Dorong Pola Makan Bergizi Lewat Program OPAL dan B2SA
deNews

Dinas Ketahanan Pangan Garut Dorong Pola Makan Bergizi Lewat Program OPAL dan B2SA

Selasa, 12 Mei 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

CSR Manggis, Masyarakat Jamali Kademangan Akan Audiensikan ke DPRD Cianjur

Jumat, 13 Desember 2019

Resonansi : Tak Ada Pemotongan TPG, Betapa Bahagianya Para Guru

Kamis, 1 Juli 2021

KabarDaerah

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Bandung, Ir. Aep Dedi

Reses di Mekarrahayu Margaasih Anggota DPRD Ir. Aep Dedi Terima Keluhan Kekecewaan Pasien BPJS

Kamis, 6 November 2025
Foto : Menurut Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (Kordiv P2HM) Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Ciamis, Wulan Syarifah menyebutkan, dari hasil pemetaan, ditemukan 23 indikator potensi kerawanan TPS Rabu (20/11/2024)

Bawaslu Ciamis Petakan 23 Indikator Potensi TPS Rawan Untuk Antisipasi Gangguan Di Hari Pemungutan

Kamis, 21 November 2024

Kades Margaluyu Sampaikan Permintaan Maaf Dalam Audiensi Bersama Komisi A DPRD Ciamis dan Mahasiswa

Selasa, 29 April 2025

DPMD Garut Bakal Tindak Lanjuti Aduan Perangkat Desa Ciudian Diberhentikan Kades Sepihak

Rabu, 18 Agustus 2021

Gibas Resort Ciamis Audiensikan Permasalahan Program Sembako Kemensos

Kamis, 27 Agustus 2020

Publik Kecam Pernyataan Kades Sukaluyu Diduga Intimidasi Jurnalis

Sabtu, 8 Mei 2021

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste