CIAMIS, deJurnal,- Peluncuran buku Antologi Badai karya Fadliil Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Ang Icep mendapat apresiasi dari tokoh sesepuh Kabupaten Ciamis, Drs. H. Akasah, M.BA.
Menurut mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis yang juga sesepuh Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Ciamis serta Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) SMP Negeri 2 Ciamis itu, buku tersebut menjadi bukti bahwa karya sastra mampu lahir dari pergulatan batin dan menjadi warisan literasi yang bernilai bagi generasi mendatang.
Akasah mengaku bersyukur sekaligus bangga atas terbitnya Antologi Badai. Ia menilai karya itu bukan hanya pencapaian pribadi penulis, tetapi juga menjadi motivasi bagi masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk berani berkarya melalui tulisan.
“Saya sangat mengapresiasi peluncuran Antologi Badai. Ini patut disyukuri dan sekaligus menjadi motivasi bagi generasi muda. Kang Icep pernah bercerita kepada saya bahwa sebagian besar puisi dalam buku ini lahir ketika pandemi Covid-19, saat semua orang berada dalam tekanan. Karena itu, setiap puisinya benar-benar keluar dari relung hati,” ujarnya usai acara peluncuran buku Rabun(05/08/2026)
Menurutnya, produktivitas Ang Icep juga layak diapresiasi. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, penulis mampu menghasilkan puluhan karya sastra yang lahir dari kepekaan terhadap kehidupan.
“Kalau tidak salah, dalam satu hingga dua tahun beliau mampu melahirkan sekitar 98 karya. Itu bukan jumlah yang sedikit. Ada puisi berjudul Lilin dan banyak karya lainnya yang benar-benar lahir dari nurani serta relevan dengan kondisi sosial yang kita hadapi,” katanya.
Akasah menambahkan, karya sastra seperti puisi memiliki kekuatan menyentuh sisi kemanusiaan yang sering kali tidak mampu diungkapkan melalui bahasa biasa.
“Karya-karya Ang Icep menjadi pemacu semangat bagi kita semua untuk kembali berkreasi. Beliau membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru pengalaman hidup menjadi modal besar untuk melahirkan karya yang berkualitas,” ujarnya.
Sastra Harus Berjalan Seiring Nilai Religi
Lebih jauh, Akasah menilai sosok Ang Icep berhasil menunjukkan bahwa kreativitas tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan.
Keseimbangan antara seni, sastra, dan spiritualitas menjadi kekuatan yang membuat karya-karya Ang Icep memiliki kedalaman makna.
“Saya melihat Kang Icep selalu menyadari bahwa segala sesuatu harus disandingkan dengan nilai-nilai religi agar hidup tetap seimbang. Karya sastra yang lahir dari hati yang dekat kepada Allah akan memiliki pesan moral yang kuat dan memberi manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
Baginya, puisi bukan hanya rangkaian kata-kata indah, melainkan media untuk mengajak masyarakat melakukan perenungan, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan.
Siap Kenalkan Antologi Badai ke Berbagai Komunitas
Sebagai tokoh yang aktif di berbagai organisasi, Akasah mengaku siap membantu memperkenalkan Antologi Badai kepada masyarakat melalui jaringan komunitas yang dipimpinnya, termasuk ILUNI SMPN 2 Ciamis dan komunitas lansia.
“Saya ingin ikut memasarkan dan mengenalkan buku ini. Jangan hanya ada lomba dangdut, sesekali adakan juga lomba baca puisi. Puisi itu mampu menyentuh hati dan membangun kepekaan,” katanya.
Ia meyakini budaya membaca dan menulis harus terus dipupuk agar masyarakat tidak kehilangan ruang untuk berekspresi di tengah derasnya arus informasi digital.
Menyikapi perkembangan teknologi digital, Akasah menilai kemajuan teknologi tidak boleh mematikan kreativitas manusia.
Kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi tidak akan mampu menggantikan kejujuran rasa yang menjadi ruh sebuah karya sastra.
“Teknologi boleh berkembang, tetapi karya yang lahir dari hati tentu berbeda dengan hasil yang sepenuhnya dibuat oleh mesin. Nilai sebuah puisi ada pada pengalaman, kejujuran, dan perasaan penulisnya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa era digital menghadirkan tantangan tersendiri, terutama bagi generasi tua yang belum sepenuhnya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Jika tidak mau mengikuti perkembangan, kita bisa tertinggal. Karena itu, kita harus belajar beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat literasi, bukan menggantikannya,” kata Akasah.
Di akhir keterangannya, Akasah berharap peluncuran Antologi Badai menjadi momentum kebangkitan budaya literasi di Kabupaten Ciamis.
Ia ingin semakin banyak masyarakat, terutama pelajar dan generasi muda, yang berani menuangkan gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan melalui karya sastra.
“Literasi harus menjadi budaya. Melalui puisi, kita belajar merasakan, berpikir, dan merenung. Saya berharap akan lahir semakin banyak penulis dan penyair dari Ciamis yang mampu mengabadikan zamannya melalui karya-karya yang lahir dari hati,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















