Dejurnal.com, Bandung — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Sekolah Dasar (SD) tahun 2026 tingkat Kabupaten Bandung digelar di SD Copagalo, Kecamatan Bojongsoang, Rabu, 23 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti peserta jenjang sekolah dasar (SD) dari 30 kecamatan se-Kabupaten Bandung.
FTBI tingkat kabupaten ini menjadi bagian dari rangkaian seleksi menuju FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat. Sebelumnya, pada Senin, telah dilaksanakan FTBI jenjang SMP antarsubrayon yang digelar di SMPN 1 Margahayu.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Yusup Salim menjelaskan, FTBI tidak hanya diarahkan sebagai ajang perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan dan upaya ngamumule atau melestarikan bahasa ibu.
Ada tujuh mata lomba yang diperlombakan dalam FTBI ini, yakni: Ngadongeng (Mendongeng) Biantara (Berpidato), Maca Sajak (Membaca puisi), Nembang Pupuh (Melantunkan pupuh/lagu tradisional), Maca jeung Nulis Aksara Sunda (Membaca dan menulis aksara Sunda), Ngarang Carita Pondok / Carpon (Menulis cerita pendek), dan Borangan atau Ngabodor Sorangan (Stand up comedy bahasa Sunda).
Menurut Yusup Salim, target yang paling utama dalam FTBI ini bukan hanya sekadar perlombaan. “Di dalamnya ada pendidikan, ada unsur ngamumule bahasa. Bahasa itu ciciren bangsa,” ujarnya Yusup di sela pembukaan kegiatan.
Menurutnya, kemampuan anak menggunakan bahasa Sunda bukan sekadar persoalan komunikasi. Lebih dari itu, bahasa menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal identitas dan asal-usulnya.
“Ketika anak mampu mengungkapkan kalimat dengan bahasa Sunda, dengan bahasa ibunya, bukan sekadar dia sedang berkomunikasi, tetapi dia mengenal dirinya, mengenal siapa dia, dari mana dia asalnya,” katanya.
Ia berharap para peserta dapat mengikuti FTBI dengan semangat sekaligus memahami nilai yang terkandung dalam pelestarian bahasa ibu.
Ia juga mengaitkan pendidikan karakter tersebut dengan prinsip SAGER, BAGER, BENER, PINTER, dan SINGER. Menurutnya, anak tidak hanya dituntut sehat secara fisik dan baik akhlaknya, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir serta keterampilan.
FTBI tingkat Kabupaten Bandung juga menjadi ajang untuk menjaring peserta terbaik yang nantinya akan mewakili Kabupaten Bandung pada tingkat Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, Kabupaten Bandung memiliki banyak potensi peserta yang mampu berprestasi hingga tingkat Jawa Barat. Karena itu, dukungan terhadap para peserta perlu terus diberikan, termasuk ketika mereka melanjutkan perjuangan ke tingkat provinsi.
“Mudah-mudahan karena bagian dari proses pendidikan, Dinas Pendidikan bisa mendorong peserta, bahkan dalam pelaksanaan tingkat kabupaten ini juga sampai tingkat provinsi untuk FTBI ini,” ujarnya.
Yusup Salim menyampaikan selamat kepada patandang, menurutnya semua peserta hakikatnya juara, dan yang dalam kesempatan tersebut tidak mendapatkan piala bukan berarti tidak juara, tetapi harus terus semangat
Dengan demikian, FTBI diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa Sunda sebagai bagian dari jati diri budaya daerah.***Sopandi

















