Dejurnal.com, Bandung – Setiap tanggal 12 Februari diperingati sebagai Hari Ibu internasional. Setiap negara memiliki bahasa ibu yang berbeda. Sayangnya, hal-hal yang mengatasnamakan kemajuan ekonomi mengikis salah satu bentuk kearifan lokal itu.
Menurut catatan UNESCO, dalam setiap 2 minggu 1 bahasa menghilang. Apakah bahasa Sunda teemsuk yang terancam hilang? Jika melihat banyak di media sosail grup WA dan FB, penggiat bahasa Sunda, dan pengguna basa Sunda di Jawa Barat rasanya bahasa Sunda aman.
Namun, mungkin untuk bahas Sunda yang benar, masih perlu ditingkatkan. Budayawan asal Kabupaten Bandung H. Heri Heryadi atau yang lebih familiar Abah Awie berpendapat, untuk melestarikan bahasa Sunda harus digunakan dalam berbahasa sehari-hari di rumah dengan bahas Sunda.
“Terapkan kepada anak cucu dalam bertutur sehari-hari di rumah. Itu yang paling penting. Bagaimana bahasa Sunda bisa tetap terjaga bapaknya, ibunya, di rumah sehari-harinya tidak berbahasa ibu,” tutur Abah Awi di rumahnya, Kawasan Burujul, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Senin (20/2/2023).
Ada upaya Pemerintah Kabupaten Bandung mencanangkan Rebo Nyunda, mewajibkan para OPD di lingkungan Pemda Kabupaten Bandung berbahasa Sunda. Menurut Abah Awie ini sebagai harapan Kabupaten Bandung, karena yang pokok itu dalam bertutur sehari-hari.
Lepas dari bahwa hari Rabu itu, menurut Abah Awie dicanangkan Kota Bandung Nyunda. “Kenapa tidak hari Selasa? Salasa Nyunda, kan lebih enak kedengarannya. Salasa Nyunda, tida O-A, ” ujarnya.
lepas dari itu, Abah Awie berharap jika benar leduli dengan bahsa Sunda, maka gunakanlah di kantor-kantor Pemda. “Jika ada yang bilang, kan di kantor itu beda-beda orang, bukan hanya orang Sunda. Iya, tapi dia kerja diana? Di Sunda. Ya harus menyesuaikan, belajarlah, ” katanya.
Menurut Abah Awie, orang jangan takut salah bertutur dengan bahasa Sunda, sehingga jadi alasan tidak berbahasa Sunda. “Jangan takut salah.Umpamanya kata dahar, tuang, neda, nyatu, kalebok. Tinggal penempatannya. Dahar untuk siapa, tuang untuk siapa, nyatu, untuk siapa. Tinggal menempatkan. Jika salah, yang tahu beri tahu, inhatkan. Yang diberi tahu atau diingatlan jangan tersinggung,” ujarnya.
Eksistensi Abah Awie di kesundaan tidak diragukan lagi, Ia sebagai pupuhu Carakasundanologi dan sekarang jadi youtuber dengan garapan dongeng Sunda, salah satu bukti giatnya melestarikan bahasa Sunda.
Benerapa dongeng Sunda seperti serial Si Buntug Jago Tutugan,, dan yang lainnya, serta dua dongeng yang sedang digarap sekarang , sore dan malam hari Neng Elah dan Balati Demit karya S Sukandar, disamping menghibur “kanca” seantero dunia, juga secar tak langsung mengajarkan bahasa Sunda yang bemar.
“Kan di komentar suka ada yang nanya, kalau itu artinya apa, Bah? Ya Abah jelaskan,” kata Abah Awie.
Selain menyampaikan pesan dalam dongengnya, bahwa tindakan seseorang itu akan ada akibatnya, dari segi bahasa pun Abah seringkali memberi penjelasan dengan harapan orang bisa mendapat pengetahuan tentang bahsa Sunda.
Abah mencontohkan. Dalam bahsa Sunda ada istilah ayeuna dan kiwari, yang dalam bahas Indonesia artinya sekarang. Lawan Katanya tiheula atawa baheula atau bihari.
Kata Abah Awie, orang Sunda mungkin sudah pada tahu arti kata ayeuna, tapi kata kiwari mungkin tidak semua orang Sunda tahu bahwa ayeuna itu sama dengan kiwari. Begitu pun kata baheula, mungkin orang Sunda banyak yang tahu artinya, tapi bihari belum tentu pada tahu bahwa itu kata lain dari baheula. ***Sopandi