CIAMIS, deJurnal,- Di tengah turunnya harga telur ayam ras dan daging ayam yang memberi keuntungan bagi konsumen, ribuan peternak rakyat justru menghadapi situasi yang semakin memprihatinkan.
Harga jual hasil ternak terus merosot, sementara biaya produksi, terutama pakan, belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Kondisi tersebut membuat margin usaha peternak semakin tergerus, bahkan banyak yang terpaksa menjual hasil produksi di bawah biaya pokok.
Koordinator Wilayah Garda Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Priangan Timur, H. Kuswara Suwarman, M.Sc., menyampaikan bahwa kondisi ini tidak bisa dipandang sebagai sekadar fluktuasi harga biasa.
Jika terus dibiarkan, banyak peternak rakyat skala kecil atau peternak gurem berpotensi menghentikan usahanya karena tidak lagi mampu menanggung kerugian yang terjadi secara berulang.
“Turunnya harga memang menguntungkan masyarakat sebagai konsumen. Namun di balik itu ada peternak yang setiap hari harus menanggung kerugian. Jangan sampai harga murah dinikmati konsumen, sementara peternak rakyat menjadi pihak yang paling dirugikan hingga akhirnya gulung tikar,” ujarnya. Senin (29/06/2026)
Menurut Kuswara, keberlangsungan usaha peternak rakyat merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlangsungan usaha peternak harus menjadi perhatian bersama.
Ia menilai, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya menyangkut harga jual hasil ternak, tetapi juga tingginya biaya produksi yang hingga kini belum mampu ditekan.
Harga pakan sebagai komponen terbesar dalam budidaya unggas masih berada pada level yang memberatkan, sementara harga jual telur dan ayam hidup terus mengalami tekanan di pasar.
GOPAN Priangan Timur mendorong pemerintah, khususnya instansi yang memiliki kewenangan di bidang pangan dan peternakan, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata niaga perunggasan nasional.
Kebijakan yang diambil diharapkan mampu menciptakan keseimbangan harga sehingga memberikan kepastian usaha bagi peternak rakyat.
Selain pengendalian harga pakan, pemerintah juga diharapkan memperkuat pola kemitraan yang lebih adil, meningkatkan perlindungan terhadap peternak mandiri, serta menghadirkan mekanisme stabilisasi harga yang berpihak pada seluruh mata rantai usaha, baik produsen maupun konsumen.
“Kami tidak meminta harga tinggi. Yang kami harapkan adalah harga yang wajar sehingga peternak masih memperoleh keuntungan yang layak untuk melanjutkan usahanya. Jika peternak terus merugi, dalam jangka panjang pasokan pangan nasional juga akan terancam,” tegasnya.
Sebagai organisasi yang menaungi peternak rakyat, GOPAN Priangan Timur menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi peternak sekaligus membangun sinergi dengan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan industri perunggasan yang sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
GOPAN meyakini bahwa keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak hanya diukur dari murahnya harga di pasar, tetapi juga dari kemampuan peternak rakyat untuk tetap bertahan, berkembang, dan memperoleh kesejahteraan yang layak dari usaha yang mereka jalankan. (Nay Sunarti)

















